Sbobetsportsindo.com – Peran gelandang bertahan dalam dunia sepak bola mengalami perubahan signifikan. Dahulu, posisi ini dikenal sebagai pengaman di depan lini belakang—penutup ruang, pemutus serangan, dan pengatur tempo dari zona aman.
Namun seiring waktu, pemain di sektor terdalam kini justru menjadi senjata strategis dalam menyerang. Figur seperti Rodri, Ryan Gravenberch, dan Sandro Tonali menunjukkan bahwa posisi ini telah berevolusi secara radikal.
Perubahan ini bukanlah sekadar eksperimen jangka pendek. Ia merupakan buah dari pergeseran taktik global, di mana formasi klasik seperti 4-4-2 mulai tergantikan oleh sistem yang lebih fleksibel seperti 4-3-3 dan 4-2-3-1, yang memberi lebih banyak ruang bagi eksplorasi vertikal dan kreativitas individu.
Dari Keane hingga Makelele: Cikal Bakal Pergeseran
Pada era awal 2000-an, gelandang seperti Roy Keane dan Patrick Vieira masih banyak bergerak ke kedua sisi lapangan. Mereka tangguh dan kerap terlibat dalam fase menyerang. Namun ketika formasi 4-3-3 mulai populer, muncul kebutuhan akan spesialis bertahan yang lebih disiplin.
Claude Makelele menjadi ikon dari perubahan itu. Ia sangat jarang maju ke depan, memilih fokus menjaga keseimbangan dan melindungi lini belakang. Dari perannya lahir istilah baru: “peran Makelele”—peran yang tidak mencolok tapi sangat krusial.
Sergio Busquets kemudian melanjutkan tren tersebut dengan pendekatan yang lebih teknis dan cerdas secara posisi. Meski berbeda gaya, peran mereka tetap berakar pada kestabilan dan kehati-hatian.
Rodri dan Gelombang Baru: Gelandang Bertahan Bernaluri Menyerang
Rodri muncul sebagai simbol baru dari peran ini. Dengan status sebagai gelandang bertahan, ia justru sering muncul di kotak penalti lawan dan mencetak gol penting. Perannya kini tak hanya menjaga transisi, tapi juga menginisiasi serangan bahkan menyelesaikannya.
Fenomena ini juga terjadi di sepak bola wanita, di mana pemain seperti Patri Guijarro tampil dominan dari lini tengah, baik dalam bertahan maupun menyerang. Gelandang terdalam kini menjadi pemain serba bisa yang mampu membaca ritme dan memanfaatkannya.
Kini, mereka tidak hanya sebagai penghubung antarlini, tapi juga penggerak utama dalam membongkar pertahanan ketat lawan.
Contoh Perubahan Gaya Bermain: Gravenberch dan Krejci
Pekan lalu di Premier League menjadi ilustrasi sempurna. Ryan Gravenberch mencetak gol pembuka dalam laga derby Merseyside. Ia memulai dari posisi dalam, mengoper ke depan, dan masuk ke kotak penalti untuk menyelesaikan peluang.
Dalam pernyataannya usai laga, Gravenberch menyebut bahwa ia kini diberi kebebasan untuk lebih ofensif—sesuatu yang sebelumnya jarang diberikan kepada pemain bertahan.
Hal serupa dilakukan Ladislav Krejci dari Wolves, yang berlari dari posisi terdalam dan menaklukkan penjaga gawang Leeds setelah kombinasi umpan cepat. Peran pasif gelandang bertahan kini benar-benar berubah menjadi peran aktif dalam membangun peluang.
Tonali, Caicedo, dan Gelombang Gelandang Fleksibel
Contoh lainnya terlihat dari Sandro Tonali, yang mencetak gol melalui pergerakan vertikal dari lini tengah ke kotak penalti saat melawan Southampton. Dalam sistem permainan Newcastle, ia memainkan peran fleksibel yang mengandalkan mobilitas dan rotasi.
Tren ini terus berlanjut. Ryan Gravenberch, Moises Caicedo, dan Martin Zubimendi telah menyumbangkan gol dalam beberapa pekan terakhir. Bahkan nama-nama seperti Joao Palhinha, Casemiro, hingga Idrissa Gueye juga masuk dalam daftar pencetak skor.
Bandingkan dengan pemain masa lalu seperti Makelele, yang hanya mencetak segelintir gol sepanjang kariernya, atau Busquets yang mencetak kurang dari selusin. Perbandingan ini menunjukkan betapa besarnya perubahan peran gelandang bertahan saat ini.
Dinamika Baru: Dari Stabilitas ke Kreativitas
Gelandang bertahan modern harus mampu menyesuaikan diri dengan gaya bermain yang cepat, penuh tekanan, dan berubah-ubah. Mereka dituntut tidak hanya menjaga bentuk pertahanan, tetapi juga memiliki inisiatif menyerang yang tinggi.
Banyak dari pemain muda saat ini berasal dari posisi menyerang sebelum dialihfungsikan menjadi gelandang bertahan. Hal ini membuat mereka lebih nyaman dalam mengolah bola, serta memiliki insting menyerang yang tajam.
Era lama yang dipenuhi dengan peran defensif kini telah bergeser ke arah peran hybrid: menjaga keseimbangan, membangun serangan, dan bahkan menjadi penentu hasil laga. Inilah babak baru bagi gelandang bertahan dalam sepak bola modern.












