Sbobetsportsindo.com – Manchester United kembali dihadapkan pada dilema di sektor penjaga gawang. Sejak perpisahan dengan David de Gea, klub masih mencari sosok yang mampu tampil konsisten. Kehadiran Andre Onana sempat memberi harapan, namun performanya di Old Trafford masih belum stabil.
Musim 2025/2026 bisa menjadi titik balik penting. Altay Bayindir belum mampu meyakinkan, sementara munculnya nama Senne Lammens dari Royal Antwerp menghadirkan opsi segar bagi manajemen klub.
Penyelamatan: Lammens Lebih Efektif
Onana memang sempat mencatat sembilan clean sheet musim lalu, tetapi persentase penyelamatannya hanya 68,9% dengan 1,0 gol dicegah. Sebaliknya, Lammens mencatatkan angka impresif: 81,4% penyelamatan dengan 14,5 gol dicegah—tertinggi di Liga Belgia.
Statistik ini menunjukkan betapa dominannya Lammens sebagai kiper muda yang siap menantang level lebih tinggi.
Kekuatan di Udara: Lammens Unggul Jauh
Dengan tinggi 193 cm, Lammens punya modal besar dalam menguasai bola-bola silang. Ia berhasil menghentikan 13,2% crossing musim lalu, menempatkannya di persentil teratas penjaga gawang Eropa.
Onana, meski lincah, hanya menghentikan sekitar 5% crossing. Ini menegaskan bahwa duel udara adalah area di mana Lammens lebih dominan.
Distribusi Bola: Keunggulan Onana
Onana dikenal sebagai kiper modern dengan kemampuan mengolah bola menggunakan kaki, menjadikannya bagian dari build-up permainan. Walau belum maksimal di MU, gaya bermainnya masih relevan dengan kebutuhan sepak bola modern.
Lammens juga cukup solid dalam distribusi dengan akurasi umpan lebih tinggi, meski volumenya lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa ia masih punya ruang untuk berkembang di level Premier League.
Kesimpulan
Lammens menawarkan keunggulan pada aspek penyelamatan dan duel udara, sementara Onana masih lebih unggul dalam distribusi bola. Pertanyaan terbesar bagi MU adalah: memilih pengalaman Onana atau memberi kesempatan pada potensi besar Lammens sebagai kiper utama masa depan?












