Sbobetsportsindo.com – Kehadiran Johnny Jansen sebagai pelatih anyar membawa ekspektasi besar bagi Bali United di Super League 2025/26.
Dengan pengalaman melatih klub Eredivisie, ia diharapkan menghadirkan revolusi taktik ala Belanda untuk Serdadu Tridatu.
Namun, hingga kini kemenangan perdana belum juga datang.
Johnny Jansen menggantikan Stefano Cugurra yang sebelumnya sukses mempersembahkan gelar domestik.
Harapan tinggi disematkan kepadanya, apalagi sejumlah pemain bintang dari Belanda ikut didatangkan bersama dua asisten pilihannya.
Akan tetapi, implementasi gaya main baru ternyata belum berjalan mulus.
Produktif di Depan, Rapor Buruk di Belakang
Bali United sebenarnya cukup tajam dalam urusan mencetak gol. Dari tiga laga awal, Thijmen Goppel dan kawan-kawan berhasil mengoleksi enam gol.
Sayangnya, barisan pertahanan mereka justru rapuh. Hingga pekan ini, mereka sudah kebobolan sembilan kali.
Kekalahan 2-5 dari Persebaya menjadi bukti bahwa strategi garis pertahanan tinggi yang diterapkan Jansen belum efektif.
Lawan dengan mudah mengeksploitasi ruang kosong lewat skema serangan balik cepat.
Pengakuan Jansen Soal Kelemahan
Seusai laga melawan Persebaya, Jansen tak menampik kelemahan timnya.
Ia mengakui bahwa kehilangan bola saat menguasai permainan sering kali menjadi sumber masalah yang berujung kebobolan.
“Kami terlalu sering kehilangan bola di area penting dan itu membuat lawan mendapat kesempatan serangan balik,” ungkapnya.
Menurutnya, tim harus belajar mengurangi kesalahan elementer agar strategi bisa berjalan maksimal.
Tugas Berat ke Depan
Revolusi gaya Belanda di Bali United masih berada dalam fase transisi.
Butuh adaptasi dan disiplin lebih tinggi agar sistem pertahanan tinggi tidak kembali menjadi celah besar bagi lawan.
Jika masalah ini tidak segera dibenahi, target besar klub bisa terganggu sejak awal musim.












